MEETING 1
Jadi pada pertemuan pertama mata kuliah ICT semster 4 ini kita membahas tentang perkembangan ICT yang baru benar-benar dimulai di era Masyarakat 4.0 atau era komputer & internet, lalu meledak di era Society 5.0 dengan adanya AI, Big Data, dan IoT di mana teknologi tidak hanya membantu pekerjaan, tapi menyatu dengan kehidupan manusia. hal ini saya rangkum kan dalam website Society Growth Visual Design(click here).
Di awal era masyarakat informasi, saat itui internet masih sangat sederhana. Halaman web dibuat dengan HTML statis, orang hanya bisa membaca informasi tanpa bisa berinteraksi. Ada email, forum, dan chat, tapi semuanya satu arah. Selanjutnya, Internet berubah dari sekadar membaca menjadi arena berbagi, berpartisipasi, dan berkolaborasi. Lahirlah blog, media sosial, video online (YouTube), wiki, dan podcast. Google menjadi simbol era ini. Bandwidth meningkat drastis dan perangkat komputasi menjadi murah, sehingga semua orang bisa ikut berkontribusi di internet yang bukan hanya perusahaan besar. Tahap berikutnya adalah masuk ke ranah Society 5.0. Web tidak lagi hanya tentang konten, tapi tentang makna dan kecerdasan. Dengan Semantic Web, mesin bisa memahami konteks informasi seperti manusia. Muncul micro-networks, komunitas digital yang lebih tersegmentasi, dan cloud computing yang menjadi tulang punggung semua layanan digital.
The Seven Cs atau Keterampilan Abad 21, yaitu tujuh keterampilan utama yang dibutuhkan manusia untuk bisa bertahan dan berkembang di era digital seperti sekarang. The Seven Cs ini adalah jawaban atas pertanyaan "apa yang harus dimiliki manusia di era Society 5.0 ?"
Diantaranya adalah, (1) Critical Thinking-and-Doing, yaitu kemampuan berpikir kritis sekaligus bertindak nyata. Di era Web 3.0 di mana informasi membanjiri kita dari berbagai arah, kemampuan untuk memilah, menganalisis, dan memecahkan masalah secara sistematis menjadi sangat krusial. (2) Creativity, yakni kemampuan menciptakan pengetahuan baru dan solusi yang belum pernah ada sebelumnya. Di dunia Society 5.0, mesin bisa mengerjakan tugas-tugas rutin, sehingga manusia dituntut untuk terus berinovasi. (3) Collaboration, yaitu kemampuan bekerja sama, berkompromi, dan membangun komunitas yang mendorong partisipasi dan kolaborasi massal di internet, seperti Wikipedia, open-source, dan media sosial. (4) Cross-cultural Understanding, kemampuan memahami dan berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang budaya, etnis, dan organisasi yang berbeda-beda.(5) Communication, yaitu kemampuan menyampaikan pesan secara efektif melalui berbagai media. di era digital ini kita tidak cukup hanya bisa bicara saja. Kita harus bisa berkomunikasi melalui tulisan, video, podcast, infografis, dan berbagai format digital lainnya. (6) Computing, kemampuan menggunakan teknologi informasi dan alat-alat digital secara efektif. Ini adalah jembatan langsung antara Seven Cs dengan pembahasan yang sebelumnya. (7) Career & Learning Self-reliance, yaitu kemampuan mengelola perubahan, terus belajar sepanjang hayat, dan mendefinisikan ulang karier sesuai kebutuhan zaman. Ini sangat penting karena di era Society 5.0, banyak pekerjaan lama hilang digantikan AI dan otomasi, sehingga manusia harus adaptif dan tidak berhenti belajar.
🔗Drive Source: meeting 1 video
MEETING 2
ICT in ELT Apa Itu?
ELT adalah singkatan dari English Language Teaching, alias pengajaran bahasa Inggris. Sedangkan ICT yaitu Information and Communication Technology. Jadi ICT in ELT adalah penggunaan teknologi seperti komputer, internet, radio, TV, dan smartphone untuk berkomunikasi, menciptakan, menyebarkan, menyimpan, dan mengelola informasi dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris.
Dijelaskan dalam power point materi bahwa teknologi dalam praktek pembelajaran tidak lahir secara tiba-tiba namun terjadi sejarah singkat terkait perkembangan teknologi. Jauh sebelum era internet, teknologi sudah dipakai dalam pembelajaran bahasa Inggris tepatnya sejak tahun 1970, di mana kaset audio dan alat perekam digunakan dalam metode pembelajaran yang disebut ALM (Audio-Lingual Method). Murid mendengarkan percakapan dari kaset dan menirukan pola kalimat secara berulang-ulang. Itu adalah bentuk paling awal "teknologi" masuk ke kelas bahasa Inggris. Kemudian pada tahun 1990, barulah ICT secara resmi masuk ke dunia ELT seiring dengan berkembangnya komputer personal dan awal mula internet. Guru mulai menggunakan perangkat digital untuk menyajikan materi, dan siswa mulai bisa mengakses sumber belajar dari luar buku teks.
Apa saja pendekatan ICT dalam Pembelajaran Bahasa (ELT) ?
CALL (Computer Assisted Language Learning) adalah pendekatan paling klasik menggunakan komputer sebagai alat bantu belajar bahasa Inggris. Ini lahir di era ketika software kamus, latihan grammar, dan CD-ROM pembelajaran mulai masuk ke kelas.
MALL (Mobile Assisted Language Learning) adalah evolusi dari CALL, tapi menggunakan smartphone dan tablet. Bentruknya adalah aplikasi seperti Duolingo, Google Translate, dan podcast belajar bahasa adalah contoh nyata MALL yang kita gunakan sehari-hari.
RALL (Robot Assisted Language Learning) adalah yang paling futuristik yaitu menggunakan robot untuk membantu siswa belajar bahasa. Ini sudah masuk ke ranah Society 5.0, di mana robot bisa berperan sebagai teman bicara atau tutor interaktif.
TELL (Technology Enhanced Language Learning) adalah konsep yang lebih luas yaitu dengan menggunakan teknologi apa pun untuk memperkaya pengalaman belajar bahasa. Kalau CALL spesifik ke komputer, TELL mencakup semua bentuk teknologi termasuk video, audio, dan tools digital lainnya.
Blended Learning adalah kombinasi pembelajaran tatap muka dan online. Guru tetap mengajar di kelas, tapi sebagian materi dan tugas dilakukan secara digital.
Flipped Learning adalah model yang membalik urutan belajar tradisional yaitu siswa belajar materi secara mandiri di rumah lewat video atau platform online sebelum datang ke kelas, lalu waktu di kelas digunakan untuk diskusi dan praktik. Ini memaksimalkan interaksi langsung dan mendorong kemandirian belajar, sangat sesuai dengan semangat Seven Cs yang sebelumnya.
LMS (Learning Management System) adalah platform digital untuk mengelola seluruh proses pembelajaran secara online seperti Google Classroom, dll.
TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) adalah framework untuk guru bahwa seorang guru yang baik di era digital harus menguasai tiga hal sekaligus: materi yang diajarkan, cara mengajarnya, dan teknologi yang digunakan.
SAMR (Substitution, Augmentation, Modification, Redefinition) adalah model untuk mengukur seberapa dalam teknologi mengubah proses pembelajaran. Di level terendah (Substitution), teknologi hanya menggantikan alat lama tanpa perubahan berarti misalnya ketik di komputer menggantikan tulis tangan. Di level tertinggi (Redefinition), teknologi memungkinkan hal-hal yang sama sekali tidak mungkin dilakukan tanpa teknologi misalnya siswa di Indonesia berkolaborasi langsung dengan siswa di Amerika membuat proyek bersama secara real-time.
✅ Keuntungan (Advantages)
1. ICT memberikan lebih banyak sumber belajar bagi guru dan siswa. Dulu guru hanya mengandalkan buku teks, sekarang ada video, podcast, artikel online, dan platform digital yang tak terbatas jumlahnya. Ini sangat memperkaya proses belajar-mengajar.
2. ICT juga mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif seperti yang disebutkan dalam Seven Cs yang kita bahas sebelumnya.
3. ICT mendorong kemandirian belajar (autonomous learning) siswa bisa belajar sendiri kapan saja dan di mana saja tanpa harus selalu bergantung pada guru. Ini sejalan dengan konsep Flipped Learning yang sudah kita pelajari.
4. ICT jua meningkatkan literasi digital baik guru maupun siswa, membangun sikap positif terhadap teknologi, dan meningkatkan motivasi belajar karena proses belajar jadi lebih variatif dan menarik.
5. ICT memberikan kemudahan dan fleksibilitas untuk pembelajaran jarak jauh terbukti saat pandemi, sekolah bisa tetap berjalan berkat platform seperti Zoom dan Google Classroom yang merupakan bagian dari LMS.
6. ICT menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan kertas secara signifikan.
❌ Kelemahan (Disadvantages)
Di sisi lain, tidak semua guru siap menggunakan ICT. Banyak yang masih memiliki pengetahuan dan sikap yang rendah terhadap teknologi, sehingga potensi ICT tidak dimanfaatkan secara optimal di kelas. Ini adalah tantangan terbesar karena teknologi secanggih apapun percuma kalau gurunya tidak mau atau tidak bisa menggunakannya. Siswa pun tidak selalu siap. Dalam model belajar mandiri seperti Flipped Learning atau MALL, dibutuhkan motivasi diri yang kuat sementara banyak siswa yang justru tidak termotivasi ketika belajar tanpa pengawasan langsung.
Dari sisi institusi, banyak sekolah yang belum didukung kebijakan yang memadai dan fasilitas teknologi yang lengkap. Infrastruktur seperti koneksi internet yang stabil, perangkat komputer, dan software berlisensi masih menjadi kemewahan di banyak daerah. Belum lagi biaya pengadaan dan perawatan yang tidak murah, menjadi beban tersendiri bagi sekolah dengan anggaran terbatas. Terakhir, ada masalah kesehatan yang sering diabaikan penggunaan layar berlebihan bisa menyebabkan kelelahan mata, gangguan postur tubuh, dan dampak psikologis dari ketergantungan pada perangkat digital.
Jadi intinya ICT dalam ELT ibarat pisau bermata dua. Manfaatnya luar biasa jika diterapkan dengan tepat, tapi tantangannya nyata dan tidak bisa diabaikan. Kunci keberhasilannya ada pada kesiapan guru, dukungan institusi, dan kebijakan yang mendukung 😀
🔗Drive Source: meeting 2 video

Comments
Post a Comment